PENGUMUMAN

blog ini pindah lokasi ke http://wahyunurdiyanto.com terima kasih
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Medley, Garis Batas Impian Lelaki

Rabu, 14 November 2007 | Label: | 3 komentar |


lumayan untuk di tonton, [sungguh]


Miskin tema, plot cerita ala kadar yang kerap menjadi momok film nasional, sepertinya sedikit terpecahkan dengan kehadiran sebuah film serius Medley, Garis Batas Impian Lelaki yang bercerita tentang fenomena-fenomena nyata dalam kehidupan.
Medley, memang belum memunculkan impian akan kehadiran film bagus di tengah kuatnya permintaan pasar akan film-film bertema horor atau percintaan remaja. Namun setidaknya, film garapan sutradara Franklin Darmadi ini menjadi sebuah alternatif tontotan baru sangat sayang untuk di lewatkan.
Film ini sendiri mulai tayang di jaringan Bioskop 21 mulai 22 november mendatang.
Film yang diproduksi oleh Shambala Pictures bercerita tentang Aditya (Yosi Mokalu) seorang suami yang tengah bimbang menghadapi roda kehidupan yang dijalaninya saat ini.
Sebagai suami yang bekerja di perusahaan asuransi, Aditya selalu dihinggapi perasaan jika langkah yang ditempuhnya saat ini salah. Hal inilah yang membuatnya tidak bahagia, meski telah mempunyai kedudukan sebagai manajer serta istri dan satu orang putra bernama Rama.
Aditya akhirnya terjebak pada angan-angan untuk merubah hidupnya dengan berandai-andai, termasuk jika dirinya tidak menikahi May (Rachel Maryam) dan memilih untuk bersama wanita lain.
GAmbaran berikutnya adalah, Aditya kemudian terjebak pada kejadian-kejadian pararel seperti yang diangankannya.
Seperti saat dirinya memilih untuk sekolah di Belanda dan menikahi pacar lamanya, Ivone (Alexandra Gottardo), atau seorang model dan artis tidak berbakat bernama Dian (Imelda Therinne).
Lonjakan-lonjakan adegan ini, mengingatkan kita pada apa yang tersaji pada film Butterfly Effect (dbintangi Ashton Kutcher). Perbedaanya hanya munculnya tokoh lain, yakni Waluyo (Alex Komang) yang membuat Aditya terbang kedalam angan yang diimpikannya.
Pada ahirnya, penonton pun dibawa pada sebuah kesimpulan jika kehidupan memang terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
"Cerita dalam film ini memang diambil dari kenyataan hidup sehari hari. Dan inilah yang menjadi salah satu kekuatan film ini," ucap Franklin Darmadi, Selasa (13/11), saat lounching Film Medley di Plasa Semanggi Jakarta.
Selain penyajian gambar yang bagus,-meski kadang melelahkan dengan banyaknya adegan close up yang membuat mata lelah-, yang perlu dicatat di film berdurasi 97 menit ini adalah penampilan Yosi yang terbilang bagus.
Pria yang lebih dikenal sebagai Yosi Project Pop ini, mampu menghidupkan karakter Aditya, dan terlihat mampu mengimbangi permainan lawan mainnya yang rata-rata sudah kerap bermain film, seperti Rachel, dan Alex Komang.
Tidak hanya itu, penampilan menggoda dari Ferry Ardiansyah yang memerankan sosok Gatot juga cukup menghibur dan mampu membuat munculnya senyum tulus dari penonton.
Kalaupun ada yang kurang, Medley kurang mampu menyajikan dialog-dialog kuat antar tokoh, khususnya antara Aditya dengan Waluyo. Dialog dua tokoh ini seharusnya bisa lebih kuat, karena sutradara memang ingin menekankan pesan-pesan mengenai sakralnya kehidupan berumah tangga, termasuk problem-problem lainnya.(persda network/why)

Medley, Garis Batas Impian Lelaki
Sutradara : Franklin Darmadi
Penulis skenario : Nicko Widjaja
pemain : Yosi mokalu, Rachel Maryam, Alexandra Gottardo, Ferry Ardiansyah, Alex Komang, Magdalena, Imelda Therine.
Produksi : Shambala Pictures
Durasi : 97 Menit
Jenis : Drama
Diputar 22 November 2007

PAsang Queen Di Album Kedua

Minggu, 11 November 2007 | Label: | 0 komentar |



SUKSES yang dicatat album Becak Fantasi tidak pernah diduga sebelumnya oleh Jubing Kristianto, maklum musik instrumen terlebih solo gitar klasik masih belum terlalu populer bagi telinga orang Indonesia.
Becak Fantasi yang berisi lagu anak-anak berjudul Becak, Burung kakaktua, dan Ayam de Lapeh serta beberapa lagu pop 90an memang sukses, sudah 7000 lebih keping kaset dan cd terjual sejak album ini dikeluarkan dua bulan lalu. DAn kondisi inilah yang membuat Jubing semangat untuk membuat album baru. Menurut rencana, album kedua akan dirilis awal tahun 2008 nanti.
Terkait materi lagu di album keduanya, Jubing yang mantan wartawan Tabloid Nova itu masih akan memilih lagu-lagu lawas yang sebelumnya sudah dikenal publik.
Salah satu lagu lawas yang akan jadi andalan di album kedua nanti adalah lagu Hujan karya Ibu Sud dan Bohemian Raphsody milik grup rock Inggris Queen.
"Ini agar orang lebih mudah mendengar dan suka," ucapnya memberikan alasan mengenai pemilihan lagu-lagu lama.
Lagu hujan dipilih karena memang menjadi favorit Jubing sejak masih belajar gitar klasik pas masih duduk di bangku SMP, sementara lagu milik Queen dipilih karena alasan pengarapan musikalitas dan aransemen yang menantang.
DAlam acara Aksi Hijau 2007 penanaman 500 pohon yang digagas oleh Kompas-Gramedia, Minggu (11/11) di kompleks Gelora Bung KArno, Jubing dengan sukarela menampilkan aransemen lagu Hujan kepada para relawan tanam pohon.
Petikan gitar yang halus serta teknik tinggi membuat para penonton terhanyut dan ikut menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan saat hujan turun itu.
"Saya tahu musik gitar klasik masih susah diterima pasar. Karena itu, album kedua ini masih jauh dari gaya gitar klasiknya. Album ini hanya untuk pengenalan. Dan setelah itu, suatu saat nanti saya akan bikin album klasik yang sesungguhnya," lanjut pria kelahiran 9 April 1966 itu.(persda network/why)

Film Laksamana Keumalahayati

| Label: | 0 komentar |

produser film, sama para pemain



Akan dibuat versi Layar lebar Yang Kolosal

SEBUAH film layar lebar kolosal mengenai pahlawan wanita asal Aceh akan dibuat oleh Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) awal tahun 2008 nanti.
Film layar lebar Laksamana Keumahalayati ini menjadi kelanjutan dari film versi layar kaca yang sebelumnya juga telah diproduksi oleh Kemenpora.
"Film layar lebarnya akan dibuat lebih kolosal Januari 2008 nanti," ucap Menpora Adhyaksa Dault, saat launching film Laksamana Keumahalayati, Lahirnya Srikandi Aceh, di Blitz Megaplex Jakarta, Sabtu (10/11).
Adhyaksa yang juga bertindak sebagai produser film ini mengatakan, pembuatan film Laksamana Keumahalayati dimaksudkan untuk mengenalkan kembali sosok-sosok pahlawan nasional yang saat ini telah banyak dilupakan. Bangsa Indonesia lebih hapal tokoh-tokoh luar negeri, dan melupakan tokoh nasional.
Dan menurut Adhyaksa, kalaupun orang mengenal sosok pahlawan hanya dari nama mereka semata yang terpampang sebagai nama jalan, nama tempat, museum, atau monumen peringatan. Kaum muda Indonesia lebih banyak tidak mengenal sejarah dan spirit perjuangan yang telah mereka lakukan.
"Kita hanya mengenal pahlawan dari namanya saja. Contohnya nama Keumahalayati, orang hanya tahu nama itu sebagai nama KRI (kapal perang Republik Indonesia). Padahal dia ini adalah laksamana wanita pertama di Indonesia, sangat pintar dan gigih melawan penjajah dan berhasil mengalahkan armada Cornelis de Hottman yang terkenal kuat pada 1599," lanjut Adhyaksa. "Dengan film ini, mari kita bangkitkan semangat nasionalisme."
Dalam kesempatan itu, Adhyaksa juga menyampaikan kegalauan hatinya mengenai minim film-film bertemakan pahlawan nasional. Untuk itu dirinya mengatakan sangat penting jika departemen-departemen lain membuat film-film mengenai tokoh-tokoh nasional lainnya.
Selain itu, kritik kepada produsen film nasional yang lebih senang membuat film horor yang sarat klenik ketimbang film dengan tema yang lebih bermutu. Televisi nasional juga dikritiknya. "Lihat saja, hari ini hari pahlawan. Tapi tidak ada satu televisi yang menayangkan film-film atau program-program bertemakan sejarah atau pahlawan nasional. Jika satu departemen membuat satu film semacam ini, maka akan ada 33 film bertemakan pahlawan nasional.
Saat ini, film ini akan digandakan dalam jumlah banyak dengan format VCD dan DVD yang akan disebar ke seluruh penjuru Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah dan perpustakaan agar bisa dilihat oleh masyarakat luas.

***
Meski persiapan pengarapan cukup rumit dan lama yakni 8 bulan, film yang disutradari oleh Alfadin mampu digarap dengan singkat, yakni hanya membutuhkan waktu tujuh hari saat produksinya (pengambilan gambar).
Keumalahayati yang diperankan oleh artis cantik Ine Febiyanti ini memang terlihat sederhana, tapi sangat jauh dari kesan ala kadar. Maklum saja, film ini digarap dengan bugdet yang minim. Dan tidak terlalu banyak mengumbar adegan-adegan perang kolosal meski sebenarnya film ini mengangkat sosok Keumahayati sebagai laksamana kapal perang terbaik kerajaan Aceh yang sigap mengahalau lanun-lanun dan penjajah Portugis.
Mengambil lokasi di Jakarta dan beberapa pantai di wilayah selatan Jawa, film yang banyak melibatkan artis-artis asal Aceh seperti Sultan Saladin, Nizar Zulmy dan beberapa nama lainnya itu menceritakan perjalanan hidup Keumalahayati sejak kecil hingga menjadi laksamana di Kerajaan Aceh.
Yang menarik, dialog-dialog yang ada di film ini banyak memuat petikan-petikan dialog asli yang dilakukan oleh Keumahalayati yang terdokumentasi dalam lembar-lembar dokumentasi orisinil milik Kerajaan Aceh.
"Ini film sejarah. Kata dan dialog bukan ciptaan skenario tapi memang asli," terang Alfadin.(persda network/why)